You're Allowed To Not Be Okay and Positive All The Time

by - Sunday, March 31, 2019



People rarely display their fragile side, right? But people are sad and lonely too sometimes. Not everyone you meet is always happy and positive. Terutama jika kalian menggunakan sosial media sebagai tolak ukur bahagia atau tidaknya hidup seseorang. Kita hidup di era media sosial dimana hampir setiap hari kita dibombardir oleh orang-orang yang tampaknya memiliki kehidupan sempurna, kehidupan yang tampak mudah dan tampaknya tidak ada kekhawatiran sama sekali. Mobil mewah, barang-barang branded, pasangan yang sempurna, karir sempurna, liburan mewah, dan masih banyak lagi.

I'm here to remind you: Instagram dan media sosial lainnya adalah sebuah halaman yang dikelola sendiri, sebuah moodboard dimana semua orang berada dalam kondisi terbaik mereka. Hampir sebagian besar orang hanya menunjukkan bagian yang ingin kalian lihat saja. What we see are people's highlight reels, not their behind the scenes. 

Kita terlalu malu untuk mengakui bahwa selama ini mungkin kita sudah terlalu keras pada diri sendiri untuk memenuhi segala macam standard yang muncul, mulai dari pekerjaan, gaya hidup hingga pasangan. Tidak apa-apa jika kita tidak memiliki kehidupan yang glamor dan sempurna. Tidak apa-apa jika kita belum bisa memiliki kesempatan untuk travelling ke berbagai tempat dan memposting foto-foto yang sempurna. It's totally okay. All is not lost. 

Mungkin terdengar konyol, aku adalah salah satu orang yang merasa tertekan dengan hal ini. Sebelum menyadari ini, aku berpikir bahwa aku harus selalu merasa dan terlihat bahagia dan positif dalam situasi apapun terutama di media sosial. Semua harus tampak seperti kehidupan yang sempurna tanpa celah dengan alasan; "semua orang seperti itu kok, jika aku seperti itu, aku akan  menginspirasi orang lain dan semakin dicintai" dan alasan konyol lainnya; aku harus tampak bahagia dan positif, karena merasa lemah dan sedih hanya akan membuat orang lain menganggap diriku kurang menarik.

Begitu terus selama beberapa saat, sampai akhirnya hal itu justru membuatku merasa tampil sebagai orang lain. Semua semata-mata hanya agar terlihat baik-baik saja dan hidup tanpa beban. Membangun image bagi orang-orang yang sebagian besar sebenarnya  tidak aku kenal demi kepuasan sesaat dan popularitas. Skenario terburuknya, ketika hidup ini melempariku dengan berbagai masalah, aku benar-benar merasa sendirian, tidak berdaya dan ketakutan. Karena hal itu sangat berbanding terbalik dengan kehidupan sempurna tanpa celah yang aku tampilkan di media sosial.

Ada satu quotes favorite masa kini yang banyak kita lihat di media sosial: always be happy and positive. Tidak salah sebenarnya, tapi tanpa kita sadari hal itu sebenarnya membuat kita menghindari masalah yang ada bukannya dengan berani menghadapinya.

I am reminded of a quote by Mark Manson  that I look at frequently to inspire me when I am too scared to face reality: "Sometimes life's sucks, and the healthiest thing you can do is admit it." Sadar atau tidak, menyangkal emosi negatif justru menyebabkan disfungsi emosional yang lebih dalam. Dengan memaksa diri kita secara konstan untuk terus menerus positif pada setiap hal sebenarnya salah satu bentuk pengelakan pada realita yang sebenarnya terjadi. Tidak salah kok, tapi bisa dibilang ini merupakan sebuah solusi jangka pendek dan hanya membuatmu merasa senang beberapa saat, bukan solusi yang valid untuk menghadapi masalah-masalah kehidupan.

Mau tidak mau, banyak hal tidak menyenangkan pasti akan kita alami dalam hidup ini. Kehilangan pekerjaan, dikecewakan oleh orang lain, berbagai insiden yang tidak menyenangkan, dan masih banyak list hal-hal tidak menyengkan yang sudah pasti membuat kita merasa tidak baik. And you know what? That's totally fine. It is a part of being human.  Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya bukan menyangkalnya. Menyangkal emosi negatif berarti melanggengkan masalah dibandingkan menyelesaikannya.

It's totally okay to talk about your problems, your fears, about your struggles and not be able to withstand the stress. Life will throw curve balls at you and I know admitting that you're struggling is the hardest part. But that's the only thing you should do. Ketika kita memaksa diri kita untuk tetap positif setiap saat, kita menyangkal keberadaan masalah dalam hidup. Dan ketika kita menyangkalnya, kita telah kehilangan kesempatan untuk menyelesaikannya. Sadar atau tidak, kebahagiaan yang sesungguhnya sebenarnya datang ketika kita berhasil menghadapi suatu masalah, bukannya menghindar dan menyangkalnya kan?

So in end, let me remind you once again:

No one should feel bad about struggling. About feeling lonely and wanting companionship. You're allowed to not be okay. Tidak semua orang harus selalu merasa positif setiap saat. Tidak seorangpun seharusnya merasa bersalah karena merasa cemas dan takut setengah mati. Tentang merasa sedih, terpuruk ataupun berada dalam situasi yang tidak menyenangkan ketika semua orang tampak bahagia. Tidak seorangpun harus merasa buruk karena ingin memposting sesuatu yang tidak sempurna di media sosial. Apapun yang dapat membantu pertumbuhan hati manusia dan tidak menyakiti siapapun dalam prosesnya, just put all of it out there.

Love, Ita
MY INSTAGRAM

You May Also Like

0 comments