God, Thank You For All The Closed Doors

by - Friday, May 25, 2018


Butuh waktu dan perjuangan yang sangat luar biasa bagi saya untuk bisa menyadari semua hal yang terjadi beberapa bulan belakangan ini. Rasanya seperti semua hal-hal menyakitkan datang secara beruntun. Hal yang paling saya takutkan terjadi, orang yang sangat saya cintai selama 6 tahun lebih memilih untuk meninggalkan saya dengan cara yang tidak baik dan menghianati semua kepercayaan dan perjuangan yang sudah saya lakukan selama ini. Saya kehilangan kontrol atas diri saya sendiri dan mencoba untuk menyerah dengan hidup ini. Saya memilih untuk berhenti menjadi blogger selama beberapa saat bahkan hingga akhirnya saya didiagnosa menderita Major Depresive Disorders (MDD) tahap berat karena trauma psikologis (ini akan saya bagikan di postingan berbeda).

Semua terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Bagaimana cara saya melewati ini semua? Tidak mudah, tentu. Ya, saya hampir menyerah dengan hidup ini. Lucunya, hal-hal buruk dan menyakitkan seakan-akan tidak berhenti menghampiri saya.

Butuh waktu sekitar 2-3 bulan bagi saya untuk mulai bisa melihat semua pelajaran berharga dari semua ini.

Dear God, terima kasih untuk semua hal-hal menyakitkan yang terjadi beberapa bulan belakangan ini. Terima kasih sudah menutup semua pintu dan jalan yang seharusnya tidak saya lalui. Terima kasih sudah mengarahkan saya ke tempat yang jauh lebih baik dan mungkin tidak pernah terpikirkan bagi saya sebelumnya. Thanks for saving me from a lifetime pain.

Dear God, terima kasih telah memaksa saya untuk melepaskan hal yang saya genggam erat selama ini, yang ternyata tidak baik untuk saya. Now I'm better off without them. Now I know what I deserve. Terima kasih telah menyadarkan saya bahwa saya layak mendapatkan sesuatu yang jauh lebih baik dari yang pernah saya pikirkan sebelumnya. Terima kasih telah memaksa saya untuk menemukan kekuatan batin sebagai perempuan yang tegar dan bangkit dari semua rasa sakit ini.

Dear God, Terima kasih untuk semua rasa sakit dari ucapan selamat tinggal yang saya dapatkan beberapa bulan ini. Terima kasih telah memberi saya kekuatan dan keberanian untuk bangkit dan tidak menyerah dengan hidup ini. Terima kasih sudah memaksa saya untuk melepaskan dan merelakan sesuatu yang tidak seharusnya saya miliki dalam hidup ini bahkan ketika saya benar-benar tidak siap untuk melepaskan. Saya tau, sesuatu yang jauh lebih baik sedang dipersiapkan untuk hidup saya. Terima kasih telah menghilangkan orang-orang tertentu dalam hidup saya karena pada akhirnya mereka akan menghancurkan saya. Terima kasih untuk semua akhir yang sangat menyedihkan karena saya tau ada akhir yang bahagia sedang menunggu saya.

Dear God, terima kasih telah membuat saya belajar bagaimana menjadi orang yang tegar dan kuat. Saya belajar menerima semua rasa sakit dan penghianatan yang orang lain lakukan dalam hidup saya. Terima kasih telah menyadarkan saya bahwa tidak semua hal hidup ini dapat terjadi sesuai keinginan saya, bahkan ketika saya sudah menulis dengan detil seluruh skenario yang akan saya lakukan dalam hidup ini. Saya belajar menerima semua perubahan ini.

Dear God, terima kasih untuk semua doa yang tidak pernah terjawab. Terima kasih untuk semua air mata yang kering. Terima kasih sudah membuat saya sadar bahwa saya tidak terkubur dalam rasa sakit ini, tapi sebetulnya saya sedang tumbuh melalui rasa sakit dan semua ketidaknyamanan ini. Right at this area of ultimate incapibility. Right at this field  of humanness. Thanks for reminding me that I am meant to bloom and be refined for all of my life.

Terima kasih sudah menutup semua pintu ini karena saya tau anda akan membuka pintu yang jauh lebih baik untuk saya. I pray and pray for you to give me what I want, but instead, you give me everything I never knew I needed. So, Thank you for all the closed doors. 

Love, Ita

MY INSTAGRAM


You May Also Like

0 comments