We Are Not The Center Of The Universe

by - Monday, January 08, 2018




No darling, you're not the center of the universe. Setelah semakin dewasa, aku mulai menyadari banyak hal dan mencoba membuka pikiranku tentang diri sendiri ataupun dunia ini.

Coba kamu pikirkan baik-baik hal ini, kita memikirkan dan melakukan segala tindakan yang akan memberikan dampak atau konsekuensi untuk diri sendiri, kita akan berkorban dan menolong orang-orang terdekat atapun orang yang bahkan tidak kita kenal yang mungkin akan memberikan efek pada hidup kita. Kita akan melakukan segala sesuatu agar terlihat lebih cantik agar kita merasa dihargai. Kita ingin dihargai ketika melakukan sesuatu yang baik, ingin dimengerti ketika kita berubah menjadi menjengkelkan ataupun melakukan kesalahan ketika mengalami masa-masa sulit. Kita merasa orang lain HARUS mengerti dan kita PANTAS dihargai. Bukankah itu melalahkan?

Atau contoh lainnya, perkataan atau tingkah baikmu tidak diperhatikan? Itu bukan karena mereka tidak menghargaimu atau tidak tahu terimakasih tapi dunia ini berputar, ada hal lain yang terjadi. Atau kamu merasa sudah melakukan banyak hal baik dan mulia tapi banyak hal justru terjadi tidak sesuai dengan apa yang sudah kamu harapkan dan rencanakan? Darling, itu tidak sia-sia, tapi energi baik yang kamu lepaskan mungkin sampai pada orang lain yang lebih membutuhkan. Bukan selalu harus kembali padamu.

Memang, sangat sulit untuk memikirkan dunia dari perspektif selain diri kita sendiri. Kita pasti akan selalu khawatir dengan diri sendiri dan apa yang akan terjadi dengan hidup kita. Bagaimana jika aku kehilangan pekerjaanku? Kenapa aku kelebihan berat badan? Kenapa mereka tidak menyukaiku? Kenapa aku tidak cantik? Kenapa aku tidak pernah mendapatkan apapun yang aku inginkan?
Tentu kita juga mengkhawatirkan orang lain juga dalam hidup ini. Tapi intensitasnya tidak sebesar kita mengkhawatirkan diri sendiri. Tidak dengan fokus dan tingkat kesadaran yang sama seperti yang kita terapkan pada diri sendiri. Coba pikirkan kenapa kita membantu orang lain? Karena akan meringankan bebannya, itu akan membuatnya merasa lebih baik. Lalu? Ya, jika mereka merasa lebih baik akupun merasa lebih baik. Atau mungkin dengan alasan lain seperti karena dia temanku, karena dia orang yang sudah pernah baik atau membantuku. Nah itu dia, karena itu membuatmu bahagia atau  orang lain pernah baik/membantumu sebelumnya. Semua berpusat pada dirimu, hanya semata-mata karena itu membuatmu merasa lebih baik. Lalu apa salahnya? Tidak ada yang salah dengan membantu orang lain. Tidak ada yang salah dengan merasa senang dapat membantu orang lain. Akupun saat ini sedang membantu orang lain melalui tulisan-tulisanku. Tapi yang aku maksudkan, membantu atau melakukan sesuatu walaupun tidak memberikan efek, imbalan atau dampak apapun pada dirimu. Hanya semata-mata kamu memang ingin membantu. You get what I mean?

Pernahkan kalian mencintai seseorang hanya karena siapa dirinya yang sebenarnya? Bukan karena kamu memikirkan apa yang bisa dia lakukan atau berikan untukmu? Bukan karena seberapa banyak cinta atau kasih sayang yang akan kamu terima darinya? Bukan karena seberapa besar dia akan membuatmu merasa nyaman dengan dirimu sendiri? Tapi kamu mencintainya semata-mata karena dia ada di dunia ini? Tanpa pernah aku sadari, aku akhirnya merasakan hal ini. Ya, sangat nyata aku rasakan saat ini.


Kita bukan pusat dari alam semesta. Tulisanku ini mungkin akan terasa berat bagi kalian, untuk mendapatkan kendali atas diri sendiri memang sulit, tidak mudah. Tapi, mendapatkan kendali atas pikiran kita sendiri, atas apa yang terjadi dalam diri kita adalah kunci kebahagiaan yang sebenarnya. Mungkin terdengar sangat tidak menarik, tapi jika kita bisa menghapus perspektif ke-akuan pada diri sendiri dan belajar melihat dunia dari sisi yang berbeda, aku yakin kita akan merasakan makna yang berbeda dari dunia ini. Coba berhenti berpikir bahwa kita lebih penting dibandingkan orang lain disekitar kita. Ada bagian lain yang perlu kita khawatirkan selain diri sendiri, ada hal-hal yang lebih penting daripada kita sebagai individu. Kita tau kenyataan ini tidak menyenangkan, tapi inilah kenyataannya, kita bukan pusat dari alam semesta.

Sangat sulit untuk tidak mementingkan diri sendiri dan berkontribusi dan memberikan rasa hormat pada orang lain seperti kita memberikannya pada diri sendiri. Saat ini aku sedang belajar untuk melepaskan diri dari pusat semuanya, belajar melepaskan diri dari keinginan untuk mendapatkan kelebihan. Sebagai gantinya, aku berusaha untuk menyadari bahwa sudah ada kebahagiaan dalam diriku dan tidak memerlukan suatu kelebihan yang tidak perlu. Bukan berarti bahwa ha-hal di dunia ini salah atau jahat, tapi menyadari bahwa itu bukan inti dari hidup kita. Aku harap hal tersebut dapat membantu kita mendapatkan kembali kesadaran kita dan memberikan petunjuk pada diri bahwa inti dari hidup ini bukanlah untuk mengumpulkan benda atau pengakuan pada diri sendiri. Sebenarnya, inti dari hidup ini adalah memberikan kontribusi pada orang lain dengan cara yang berarti, memberikan kontribusi melebihi kemampuan kita sendiri.

Lain kali jika kamu merasa khawatir tentang sesuatu atau terlalu fokus dengan dirimu sendiri dan apapun yang sudah kamu rencanakan, luangkan waktu sejenak untuk merenungkan kenyataan bahwa kamu, kita, anda atau kalian bukanlah pusat dari alam semesta ini. Kita mungkin tidak memerlukan penjelasan lain lagi untuk menjawab hal ini. Ketika kita menyadari hal ini dengan baik, aku yakin kita semua dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Love, Ita

MY INSTAGRAM 


You May Also Like

1 comments

  1. Artikel ini bener-bener menginspirasi, Ita. Terkadang pasti kita pernah merasa kalo segala sesuatu itu terpusat di diri kita sendiri, tanpa lihat sekeliling kita, padahal kenyataannya, tanpa orang-orang di sekitar kita, kita nggak mungkin bisa jadi kita yang sekarang ini. Thanks for reminding me <3

    xoxo,
    |CHELSHEAFLO|

    www.chelsheaflo.com

    ReplyDelete